Depok,reportaseindonesia.id – Pemberitaan mengenai Direktur RSUD Anugerah Sehat Afiyat (ASA) Kota Depok, dr. Enny Ekasari, beserta sejumlah pejabat lainnya yang kedapatan melakukan perjalanan ke luar negeri di saat jam kerja telah memicu gelombang kontroversi dan menuai berbagai tanggapan keras dari masyarakat dan lembaga pengawasan.
Kasus ini mulai mencuat setelah manifest penerbangan pesawat QG-522 memunculkan nama Direktur RSUD ASA ke permukaan, mengindikasikan adanya kegiatan “plesiran” (perjalanan santai/rekreasi) di tengah kewajiban dinas.
Sorotan paling tajam datang dari Ketua LSM Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) Kota Depok, Bambang Bastari. Ia mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera bertindak dan tidak mengabaikan isu ini.
“Menurut kami, APH perlu melakukan penyelidikan terkait anggaran yang digunakan dalam kegiatan plesiran yang dilakukan Dirut RSUD ASA,” tegas Bambang pada Jumat, 05 November 2025.
KPMP menyatakan akan terus mengawasi penggunaan anggaran yang mereka duga telah disalahgunakan. Mereka mempertanyakan asal-usul dana yang digunakan dalam perjalanan tersebut:
“Apakah anggaran tersebut dari RSUD yang disalahgunakan, atau malah ada pihak ketiga atau sponsor yang bekerjasama dengan rumah sakit, apakah itu terkait alat kesehatan, obat? Yang jelas, dia meninggalkan tugas saat jam kerja, dan ini memang harus diawasi oleh publik supaya tidak terjadi lagi di instansi lainnya,” jelas Bambang.
Ia menekankan bahwa pengawasan masyarakat adalah kunci, bukan untuk dimusuhi, melainkan sebagai bentuk kontrol. KPMP mengklaim telah melaporkan indikasi korupsi sebelumnya dan prosesnya masih berjalan.
“Jika terbukti ditemukan pelanggaran atau penggunaan anggaran yang salah, segera APH menindak tegas sebagai efek jera bagi instansi lainnya. Dan inspektorat juga harus menelusuri hal tersebut serta memberikan sanksi tegas,” pungkasnya.
Sebelumnya, manajemen RSUD ASA telah memberikan bantahan di salah satu media terkait tudingan negatif yang beredar. Mereka menepis klaim bahwa perjalanan pejabat rumah sakit telah menyebabkan pelayanan tidak berjalan normal.
Pihak rumah sakit menegaskan bahwa informasi tersebut “tidak berdasar” dan menduga kuat bahwa isu ini berasal dari tindakan oknum luar melalui pegawai internal yang disinyalir memiliki motif tertentu di balik penyebaran informasi tersebut.
Namun, hingga berita ini diturunkan, Direktur RSUD ASA, dr. Enny Ekasari, belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi terkait sumber anggaran yang digunakan dalam perjalanan ke luar negeri tersebut. (Agus)












