Kota Layak Anak, Siswa Miskin Berjarak 500 meter dari SMAN 14 Depok Ditolak

Depok,reportaseindonesia.id|Belum lama ini Kota Depok mendapatkan predikat Kota Layak Anak sebanyak 5 kali, hal tersebut seharusnya dapat menjadi acuan bagi sekolah.

Dilain sisi masih adanya siswa miskin yang belum mendapatkan sekolah membuat prihatin relawan DKR Kota Depok.

“Ya kami cukup prihatin. Tidak pantes sekolah milik negara menolak siswa miskin bersekolah. Karena sekolah adalah hak warga negara siapapun. Negara saja mewajibkan semua anak bersekolah, koq bisaada sekolah yang menolak,” ujar Roy Pangharapan.

“Senjatanya masyarakat miskin ya gak ada lagi selain melakukan demontrasi, untuk mencari solusi agar anak tetap dapat sekolah,”tegas Roy Pangharapan.

Sebelum melakukan demontrasi, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pihak sekolah, namun gagal mencapai kesepakatan dan tidak ada solusinya.

“Anehnya gubernur Ridwan Kamil penuh janji semua anak di Jawa Barat bisa sekolah. Kemarin omong besar janji lagi sama anak-anak Citayam bisa sekolah. Sampai hari ini kasus anak ditolak sekolah didiamkan Gubernur Ridwan Kamil,” keluh Roy Pangharapan.

Sejumlah relawan hadir pada aksi tersebut diantaranya, dr. Sortaman Saragih, MARS Ketua Dewan Pakar DKR Depok, Anton Sujarwo, Ketua Arema Kota Depok, Ir Jarmud As Tahun, Ketua Umum Bamus Ormas dan LSM Kota Depok dan Adi Suman dari INFO DEPOK.

Setelah ketua DKR melakukan orasi, dengan sigap para aparat keamanan memfasilitasi pendemo dengan pihak sekolah.

Sejumlah perwakilan DKR ditambah para orang tua siswa langsung ditemui oleh kepala SMAN 14 Kota Depok, Dadi, Spd.

Pertemuan sempat alot, terkait tuntutan DKR kota Depok. Pihak sekolah merasa sudah tidak bisa mengakomodir. Namun DKR Kota Depok memiliki data sejumlah ruang kelas berisi dari 38 siswa bahkan ada yang lebih.

BACA JUGA :   Ibu Negara Sosialisasikan Bahaya Narkoba kepada Pelajar Lewat Kuis Berhadiah

Bahkan menurut DKR, telah terjadi penambahan ruang kelas diluar ketentuan dari 4 ruang kelas menjadi 6 ruang kelas 10 atau 1.

“Sempet ada dinamika di ruang kepala SMAN 14, cukup alot, kami siap buka-bukaan data. Kami pertanyakan bagaimana caranya siswa masuk untuk tambahan 2 kelas?” ujar ketua DKR

Akhirnya, setelah kepala SMA berkoordinasi dengan pimpinan, diakomodir 1 siswa dari 3 siswa miskin yang diperjuangkan DKR.

“Ya disepakati 1 dan kami akan terus menuntut 2 siswa miskin yang harus sekolah,” pungkas Roy Pengharapan.

Ditempat yang sama, Lilis salah satu orang tua calon siswa miskin yang tidak terakomodir kebingunan dengan nasib anaknya

“Pihak sekolah hanya mengakomodir 1 anak, sedangkan yang dua gimana ya? Anak aku sudah ketinggalan banget udah dua minggu. Saya dari keluarga tidak mampu boleh dicek, saya ngontrak. Kemarin waktu daftar online jalur zonasi ditolak, padahal seblumnya anak saya SMP disini, jarak kurang lebih 500 meter,” ungkapnya. (Agus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

two + 14 =